Segenap keluarga Besar OSIS MTs. Nyai H. Ashfiyah mengucapkan selamat Berjuang untuk menghadapi soal-soal Ujian Nasional, kakak-kakak kelas IX kami anggota Osis akan membantu doa guna suksesnya Ujian Nasioanl tahun 2009.
amin...
TERAKREDITASI-A (amat baik) www.mts-ashfiyahsby.sch.id Jl. Raya Lontar 136-138 call: 031-7523483
THE OUTSTANDING MADRASAH IN WEST SURABAYA
Jumat, 24 April 2009
UJIAN NASIONAL
MTs. Nyai H. Ashfiyah khususnya kelas IX akan melaksanakan Ujian Nasional senin besok tanggal 27 April 2009. Semoga siswa-siswi MTs. Nyai H. Ashfiyah Lulus 100 %
Senin, 20 April 2009
HARI HARTINI
Mengapa kita memperingati Hari Kartini?
Tanggal 21 April merupakan hari Kartini, seperti barusan terjadi minggu ini. Apa yang saudara lihat? Hampir semua anak sekolah terutama siswi putri pada hari tersebut mengenakan pakaian daerah khusunya kebaya sebagai pakaian nasional. Apakah anak-anak TK tahu maksud dan tujuannya? Juga bagi anak SD, SMP dan SMU? Apakah mereka pakai kebaya karena takut terhadap gurunya yang mengharuskan mereka pakai pakaian kebaya.
Pada peringatan kartini selain anak-anak sekolah, ibu-ibu (yang memperingati), penyiar televisi, supir bus perempuan (trans Jakarta), mereka memperingai hari Kartini dengan pakaian kebaya. Selain itu di kereta KRL Jabodetabek pada hari tersebut dianjurkan tempat duduk hanya untuk putri. Mungkin itu solidaritas dari laki-laki walau hanya sehari.
Namun arti peringatan hari Kartini tidak sesederhana itu. Selain dari pakaian kebaya (nasional) juga pakaian daerah daerah yang melambangkan perbedaan namun tetap satu, adalah penanam nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis oleh Kartini. Penanaman makna perjuangan, kesetaraan, nasionalisme, pendidikan dan pengetahuan yang tinggi seharusnya yang menjadi issu untuk membangkitkan semangat generasi muda khusunya perempuan.
Bagi perempuan untuk memiliki pengetahuan yang cukup maka perempuan harus mempunyai kedudukan dan hak yang sama dengan pria. "Bukankah perempuan itu adalah manusia juga?" tulis Kartini dalam suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya, Ny. Abendanon. Surat-suratnya kemudiian dikumpulkan dan dibukukan serta diberi Nama "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Namun di balik itu kalau kita lihat dan dengar, beberapa perempuan masih mendapatkan masalah dengan kesehatan (angka kematian ibu dan angka kesakitan yang masih tinggi), buruh perempuan yang masih lebih rendah upahnya dibanding pria, penyiksaan pembantu (PRT) oleh majikan, angka kekerasan dalam rumah tangga yang semakin tinggi, bahkan di laporkan akhir-akhir ini meningkat jumlahnya. Selain itu para TKW yang bekerja di luar negeri masih belum mendapatkan perlindungan yang semestinya dari negara.
Ingat nasib buruh Marsinah? Sampai sekarang kasusnya tidak pernah tuntas. Itu hanya salah satu kasus saja belum termasuk kasus para TKW yang pulang dengan seribu problema. Belum lagi nasib para TKW yang siap dihadang dengan berbagai tuduhan yang ringan sampai hukuman gantung.
Adakah perbaikan nasib perempuan dan kesamaan gender ini setelah tiap tahun kita memperingati hari Kartini? Bahkan hampir di setiap kabinet pembangunan maupun kabinet reformasi atau kabinet persatuan menteri peranan wanita atau pemberdayaan perempuan tetap ada. Namun demikian apa yang dicita-citakan Kartini belum tercapai secara mulus.
Melalui peringatan Kartini kali ini semoga perbaikan nasib dan harkat martabat perempuan Indonesia khususnya mulai ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya peringatan Kartini saja yang meriah tetapi bagaimana semangat perjuangan Kartini dapat dinikmati oleh seluruh perempuan Indonesia. Hendaknya peringatan Kartini bukan hanya dalam rangka memelihara tradisi dan nilai-nilai budaya tetapi untuk menghilangkan diskriminasi, marginalisasi, eksploitasi, kekerasan terhadap perempuan di mana-mana.
Melalui pendidikan pula, para guru dapat menanamkan semangat cita-cita Kartini kepada para murid-muridnya, orang tua kepada anak-anaknya. Disamping semangat yang tinggi yang telah ditunjukkan hendaknya mereka tanpa mengabaikan hakekatnya sebagai seorang wanita
Tanggal 21 April merupakan hari Kartini, seperti barusan terjadi minggu ini. Apa yang saudara lihat? Hampir semua anak sekolah terutama siswi putri pada hari tersebut mengenakan pakaian daerah khusunya kebaya sebagai pakaian nasional. Apakah anak-anak TK tahu maksud dan tujuannya? Juga bagi anak SD, SMP dan SMU? Apakah mereka pakai kebaya karena takut terhadap gurunya yang mengharuskan mereka pakai pakaian kebaya.
Pada peringatan kartini selain anak-anak sekolah, ibu-ibu (yang memperingati), penyiar televisi, supir bus perempuan (trans Jakarta), mereka memperingai hari Kartini dengan pakaian kebaya. Selain itu di kereta KRL Jabodetabek pada hari tersebut dianjurkan tempat duduk hanya untuk putri. Mungkin itu solidaritas dari laki-laki walau hanya sehari.
Namun arti peringatan hari Kartini tidak sesederhana itu. Selain dari pakaian kebaya (nasional) juga pakaian daerah daerah yang melambangkan perbedaan namun tetap satu, adalah penanam nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis oleh Kartini. Penanaman makna perjuangan, kesetaraan, nasionalisme, pendidikan dan pengetahuan yang tinggi seharusnya yang menjadi issu untuk membangkitkan semangat generasi muda khusunya perempuan.
Bagi perempuan untuk memiliki pengetahuan yang cukup maka perempuan harus mempunyai kedudukan dan hak yang sama dengan pria. "Bukankah perempuan itu adalah manusia juga?" tulis Kartini dalam suratnya yang ditujukan kepada sahabatnya, Ny. Abendanon. Surat-suratnya kemudiian dikumpulkan dan dibukukan serta diberi Nama "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Namun di balik itu kalau kita lihat dan dengar, beberapa perempuan masih mendapatkan masalah dengan kesehatan (angka kematian ibu dan angka kesakitan yang masih tinggi), buruh perempuan yang masih lebih rendah upahnya dibanding pria, penyiksaan pembantu (PRT) oleh majikan, angka kekerasan dalam rumah tangga yang semakin tinggi, bahkan di laporkan akhir-akhir ini meningkat jumlahnya. Selain itu para TKW yang bekerja di luar negeri masih belum mendapatkan perlindungan yang semestinya dari negara.
Ingat nasib buruh Marsinah? Sampai sekarang kasusnya tidak pernah tuntas. Itu hanya salah satu kasus saja belum termasuk kasus para TKW yang pulang dengan seribu problema. Belum lagi nasib para TKW yang siap dihadang dengan berbagai tuduhan yang ringan sampai hukuman gantung.
Adakah perbaikan nasib perempuan dan kesamaan gender ini setelah tiap tahun kita memperingati hari Kartini? Bahkan hampir di setiap kabinet pembangunan maupun kabinet reformasi atau kabinet persatuan menteri peranan wanita atau pemberdayaan perempuan tetap ada. Namun demikian apa yang dicita-citakan Kartini belum tercapai secara mulus.
Melalui peringatan Kartini kali ini semoga perbaikan nasib dan harkat martabat perempuan Indonesia khususnya mulai ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya peringatan Kartini saja yang meriah tetapi bagaimana semangat perjuangan Kartini dapat dinikmati oleh seluruh perempuan Indonesia. Hendaknya peringatan Kartini bukan hanya dalam rangka memelihara tradisi dan nilai-nilai budaya tetapi untuk menghilangkan diskriminasi, marginalisasi, eksploitasi, kekerasan terhadap perempuan di mana-mana.
Melalui pendidikan pula, para guru dapat menanamkan semangat cita-cita Kartini kepada para murid-muridnya, orang tua kepada anak-anaknya. Disamping semangat yang tinggi yang telah ditunjukkan hendaknya mereka tanpa mengabaikan hakekatnya sebagai seorang wanita
SEJARAH KARTINI
Riwayat Singkat
"RADEN AJENG KARTINI"
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di jepang pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan 127 tahun yang lalu. Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Daya berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.
Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : "Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki".
Dengan melanggar segala aturan-aturan adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum penjajah belanda pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya.
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.
Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyoningrat Bupati Rembang mengharuskan beliau mengikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri lainnya.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan.
Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menampakkan kaum wanita ditempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang. sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang relatif muda, yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.
Tetapi perjuangan serta cita-cita beliau tetap berkumandang dan berkembang, terbukti dalam masa pembangunan sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang memegang peranan penting, baik dalam pemerintahan dalam bidang swasta sesuai dengan profesi masing-masing.
Demikianlah pengungkapan kembali sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini, semoga peringatan kali ini membawa manfaat dan membulatkan tekad kita bersama dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara yang sangat kita cintai ini, dan kita dapat memetik buahnya serta butir-butir perjuangan beliau demi kelanjutan perjuangan bangsa indonesia umumnya dan perjuangan wanita khususnya.
Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih atas segala perhatian Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya sudahi dengan wabillah hitaufiq walhidayah wassalamualaikum Wr.Wb.
"RADEN AJENG KARTINI"
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di jepang pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan 127 tahun yang lalu. Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Daya berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.
Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : "Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki".
Dengan melanggar segala aturan-aturan adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum penjajah belanda pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya.
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.
Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyoningrat Bupati Rembang mengharuskan beliau mengikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri lainnya.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan.
Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menampakkan kaum wanita ditempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang. sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang relatif muda, yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.
Tetapi perjuangan serta cita-cita beliau tetap berkumandang dan berkembang, terbukti dalam masa pembangunan sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang memegang peranan penting, baik dalam pemerintahan dalam bidang swasta sesuai dengan profesi masing-masing.
Demikianlah pengungkapan kembali sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini, semoga peringatan kali ini membawa manfaat dan membulatkan tekad kita bersama dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara yang sangat kita cintai ini, dan kita dapat memetik buahnya serta butir-butir perjuangan beliau demi kelanjutan perjuangan bangsa indonesia umumnya dan perjuangan wanita khususnya.
Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih atas segala perhatian Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya sudahi dengan wabillah hitaufiq walhidayah wassalamualaikum Wr.Wb.
Langganan:
Postingan (Atom)
